Lewati ke konten utama
Kembali ke blog

Seni dengan Kode

3 menit baca

Seni dengan Kode

Dua tahun lalu, saya berpikir untuk membuat karya seni digital saya sendiri menggunakan kode, jadi saya mulai bereksperimen membuat seni sederhana menggunakan bahasa pemrograman JavaScript. Sebenarnya, saya pernah mencobanya saat masih kuliah WKWK, tapi saat itu saya hanya menggunakan gambar dan beberapa animasi sederhana. Namun kali ini berbeda, karena saya membuatnya benar-benar dari nol hanya menggunakan bentuk-bentuk 2D. Salah satu library yang paling sering saya gunakan untuk membuat seni digital adalah library JavaScript p5.js. Library JavaScript ini sangat ringan dan dirancang khusus untuk memudahkan siapa saja dalam membuat karya seni. Hal yang menyenangkan adalah terdapat code editor langsung di websitenya, jadi saya tidak memerlukan code editor lain untuk membuat karya seni saya, baik 2D maupun 3D.

Melalui dokumentasi referensi yang lengkap di situs resminya, saya bereksperimen lebih jauh untuk membuat karya 2D hingga 3D. Menariknya, proses ini tidak memerlukan software desain visual yang berat untuk membuat seni 2D dan mungkin 3D atau animasi sederhana, melainkan murni memanfaatkan kode JavaScript. Namun, jika menggunakan 3D dan animasi yang kompleks, code editor bawaan di websitenya bisa menjadi sangat berat untuk dijalankan. Oleh karena itu, saya menyarankan untuk menggunakan code editor milik sendiri di perangkat lokal.

Proses pembuatan karya 3D ini sebenarnya dimulai dari elemen-elemen geometris 2D yang sangat dasar. Dalam dokumentasinya, terdapat bab “geometric shapes” yang berisi beberapa fungsi geometris seperti arc(), circle(), ellipse(), line(), point(), quad(), rect(), square(), dan triangle(). Saya menyusun karya menggunakan fungsi bawaan p5.js tersebut, lalu mengombinasikannya dengan beberapa fungsi transformasi sederhana untuk membuat objek 3D yang dapat mengatur ulang dan memindahkan posisi objek 2D sederhana, lalu memutarnya di sumbu X, Y, dan Z. Hasilnya, menurut saya, cukup bagus. Bentuk yang awalnya pipih bergabung menjadi struktur tiga dimensi ber-volume dan berperspektif, yang mengubah cara pandang saya dalam mengeksplorasi seni digital lebih jauh lagi dari apa yang telah saya buat selama ini.

// Inisialisasi ruang kerja 3D menggunakan renderer WEBGL
createCanvas(window.innerWidth, window.innerHeight, WEBGL);

// Perulangan untuk membuat beberapa objek dari bentuk yang sama
for (let i = 0; i < count_shape; i++) {
  push();
  translate(0, 0, -i * 50); // Menumpuk setiap bentuk 2D lebih dalam di sepanjang sumbu Z
  any_shape2D(); // Merender bentuk 2D apa saja (arc, ellipse, dll)
  pop();
}

3D of Arc Shape 3D of Ellipse Shape 3D of Line Shape 3D of Quad Shape 3D of Rect Shape 3D of Triangle Shape

Eksperimen ini membuktikan kepada saya bahwa seni digital dan kode bukanlah dua hal yang bertolak belakang; justru keduanya bisa menyatu dengan indah untuk menghasilkan karya seni yang luar biasa. Melalui proyek yang menyenangkan ini, setiap baris kode yang saya tulis terasa seperti menggoreskan kuas di atas kanvas digital. Meskipun berawal dari sekadar deretan teks dan angka di layar editor, hasil akhirnya sungguh mempesona. Pendekatan visual coding ini sangat terstruktur, namun di saat yang sama memberikan kebebasan penuh bagi imajinasi saya untuk bermain-main dengan seni. Pada akhirnya, mengeksplorasi library JavaScript p5.js menjadi metode yang menyenangkan—tidak hanya cocok untuk melatih logika pemrograman, tetapi juga sukses menjadi media untuk mengekspresikan sisi artistik saya tanpa batas.

Terima kasih telah mengunjungi blog saya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau penyusunan kata, karena ini adalah pertama kalinya saya menulis blog ~

Bagikan artikel ini

WhatsApp X LinkedIn Facebook